Sabung Ayam dalam Representasi Masyarakat Bali

Photo: Mario-Schmitt.

Permainan Mendalam: Catatan tentang Sabung Ayam di Bali. Clifford Geertz. Kanisius. 1992. | Deep Play: Notes on the Balinese Cockfight. Clifford Geertz. Daedalus 101 (1). 1972.  

Clifford Geertz dalam perjalanan etnografinya di Bali pada tahun 1958 menemukan kebudayaan yang tidak sepenuhnya diterima oleh sebagian masyarakatnya maupun oleh otoritas pemerintahan. Sabung ayam, kegiatan yang ditemui Geertz kala itu, diselenggarakan secara masif di alun-alun dengan tujuan pengumpulan dana untuk sebuah sekolah baru (Geertz 1992). Menurut Geertz, ketidaksetujuan sebagian orang terhadap sabung ayam didasarkan pada pretensi puritanisme yang cenderung dibawa nasionalisme radikal — kegiatan yang diasumsikan primitif, terbelakang, dan tidak progresif. Di sisi lain, bagi masyarakat Bali, sabung ayam menurut Geertz memiliki banyak makna diantaranya: 

  • Obsesi untuk memperoleh kekuatan; 
  • Pertarungan antara manusia dengan manusia; 
  • Persembahan kurban darah kepada roh-roh jahat; 
  • Drama berdarah penuh emosi tentang kebencian, kekejaman, kekerasan, dan maut; 
  • Pertandingan konsensual sebagai sarana meletakkan kedirian publik;
  • Membentuk hierarki sosiomoral yang berhubungan dengan status;
  • Representasi Aesopian dari maskulinitas, ideal-demonis, dan narsistis;
  • Simbol kelompok baik dalam kekerabatan maupun kewilayahan;
  • Permainan terstruktur; 
  • Sarana berekspresi untuk meredakan nafsu sosial;
  • Sebuah ritus atau hiburan yang melibatkan penggunaan emosi untuk tujuan-tujuan kognitif, seperti kenikmatan karena kemenangan; dan
  • Sarana membentuk dan menemukan watak serta perangai masyarakatnya.

Terlebih, Geertz menerangkan ayam (jago) bagi masyarakat Bali menyimbolkan kejantantan par excellence laki-laki atau maskulinitas.

Sebagai antropolog, Geertz tidak hanya melakukan penelitian terhadap realitas sosial yang terwujud dalam perilaku atau kebiasaan maupun tradisi yang ada di dalam masyarakat, tapi ia juga melakukan penggalian terhadap ide-ide, nilai-nilai, keyakinan dan hal-hal lain yang berhubungan dengan pengetahuan kognitif, dari “sistem alam” ke “sistem ide atau simbolik” (D’Andrade 1995). Sejalan dengan persepsi Geertz, tujuan antropologi ialah untuk menerapkan konsep semiotis tentang kebudayaan yang dalam hal ini dianggap sebagai sebuah konteks dimana segala yang ada di dalamnya dapat ditafsirkan dan dijelaskan secara mendalam (Geertz 1972), misalnya melalui sudut pandang subjek penelitian (tineliti) — pendekatan verstehen atau analisis emik (Geertz 1972). Evans-Pritchard menyiratkan bahwa antropologi sosial mempelajari manusia sebagai sistem moral atau simbolik bukan sebagai sistem alami sehingga lebih tertarik pada desain dan mencari pola bukan hukum — pandangan ini dianggapnya lebih konsisten dan tidak membutuhkan relasi dalam aktivitas sosial dan bersifat interpretatif daripada eksplanatif (Evans-Pritchard 2004). Geertz dalam menginterpretasikan sabung ayam di Bali setidaknya memperhitungkan status dan peran dalam konteks kebanggaan seorang individu dalam kehidupan bermasyarakat. Dari sanalah ia melihat adanya diskriminasi (positif) gender — menghasilkan ekslusivitas suatu permainan dengan pertaruhan ‘diri’ dan ‘darah’ yang dikhususkan bagi seorang laki-laki Bali, bukan diperuntukkan bagi perempuan.

Budaya sabung ayam dalam masyarakat Bali membawa konsekuensi logis atas eksistensi paradoks sebuah pertunjukan magis. Tulisan Geertz tidak lepas dari kritik terkait pemahamannya tentang budaya sebagai keseluruhan yang koheren, meskipun demikian konstruksi sabung ayam sebagai teks dinilai bersifat terbuka dan komunikatif (dialogis) karena Geertz menafsirkan simbol dari sudut pandangnya yang didasarkan pada data empiris (Clifford 1983; Lindquist 2007). Penjelasan interpretatif Geertz dengan paradigma fungsionalisme dinamis menunjukkan penempatan sabung ayam bukan dalam hal penyetaraan moral seperti suatu tindakan kriminal, melainkan ditempatkan pada fungsi yang ambivalen yakni menampilkan kepekaan masyarakat Bali yang dibungkus dengan tujuan kontemplasi, pendidikan dan instruksi budaya (Schneider 1987; Geertz 1992). Tidak hanya memahami perspektif pelaku dan penikmat sabung ayam, namun Geertz juga memahami perspektif mereka yang memberikan sentimen negatif pada sabung ayam yakni menyangkut keresahan terhadap tindakan yang dianggap merugikan sebagai imbas pelampiasan emosi pelaku sabung ayam secara agresif bahkan destruktif akibat kekalahan dalam pertarungan (Geertz 1992). Selain itu laki-laki yang menggandrungi sabung ayam seolah membentuk pilihan prioritas peran yang absolut — kedudukan jago lebih dari perempuan atau anggota keluarganya, sehingga menunjukkan adanya tingkatan status dan peran akibat pembawaan diri laki-laki terhadap obsesi maskulinitas ke dalam realisasi imaginatif (Geertz 1992).

Gaya tulisan sastra Geertz mampu membawa aspek-aspek estetika, relativisme, dan subjektivisme memperkuat peran interpretatornya dan menjadikannya wajar disamping pretensi objektivitas yang dituntut oleh antropologi (Smith 2008). 

Pada akhirnya, sabung ayam bertitik tolak pada dramatisasi perbedaan ‘in group’, ‘out group’, dan masalah status yang berujung pada tujuan pencapaian kebanggaan (semu) — ilusi imaginatif dari perpindahan status sebagai konsekuensi kemenangan yang sebenarnya tidak pernah ada (Geertz 1992; Duneier 2011). 

Sabung ayam sebagai suatu permainan dalam konteks budaya menjadi kerangka alternatif guna memahami bentuk dan struktur yang ditawarkan oleh kegiatan tersebut sebagai institusi yang memproduksi makna (O’Donnell 2014). ‘Virtuosic interpretation’ sebagai teks publik yang diajukan Geertz mendukung pengungkapan makna sabung ayam olehnya yang fokus pada tiga hal, yaitu kehidupan sosial masyarakat Bali, pemikiran budaya, dan gairah individu dalam ranah kognitif (Ortner 2005). Dengan demikian penafsiran sabung ayam tidak lepas dari konteks. Pendalaman Geertz terhadap konteks membuatnya berhasil mengonstruksikan argumen bahwa sabung ayam merupakan sarana menemukan semacam oto-kosmos moral yang merepresentasikan subjektivitas dan perangai masyarakat Bali (Geertz 1992) dengan konsentrasi pada maskulinitas yang dipandang sebagai ‘status ethic of honor’ (Sallaz 2008). Inilah yang menjadi alasan dasar mengapa sabung ayam tidak sangat kuat dikritik pada aspek perjudian atau segala yang berhubungan dengan pertaruhan uang (materi).

Photo: Mario-Schmitt.

Referensi

Clifford, James. 1983. “On Ethnographic Authority.” Representations (2): 118-146. doi:10.2307/2928386.

D’Andrade, Roy. 1995. The Development of Cognitive Anthropology. Cambridge: Cambridge University Press.

Duneier, Mitchell. 2011. “How Not to Lie with Ethnography.” Sociological Methodology 41 (1): 1-11. doi:10.1111/j.1467-9531.2011.01249.x.

Evans-Pritchard, Edward Evan. 2004. Social Anthropology. Oxon: Routledge.

Geertz, Clifford. 1972. “Deep Play: Notes on the Balinese Cockfight.” Daedalus 101 (1): 1-37. https://www.jstor.org/stable/20024056.

Geertz, Clifford. 1992. “Permainan Mendalam: Catatan tentang Sabung Ayam di Bali.” Dalam Tafsir Kebudayaan, 205-250. Yogyakarta: Kanisius.

Lindquist, John. 2007. “Deep Pockets: Notes on the Indonesian Cockfight in a Globalizing World.” SPAFA Journal 17 (3): 17-22.

O’Donnell, Casey. 2014. “On Balinese Cockfights: Deeply Extending Play.” Games and Culture 9 (6): 406-416. doi:10.1177/1555412014545783.

Ortner, Sherry B. 2005. “Subjectivity and Cultural Critique.” Anthropological Theory 5 (1): 31-52. doi:10.1177/1463499605050867.

Schneider, Mark A. 1987. “Culture-As-Text in the Work of Clifford Geertz. Theory and Society 16: 809-839. doi:10.1007/bf00138070.

Sallaz, Jeffrey J. 2008. “Deep Plays: A Comparative Ethnography of Gambling Contests in Two.” Ethnography 9 (1): 5-33. doi:10.1177/1466138108088947.

Smith, Philip. 2008. “The Balinese Cockfight Decoded: Reflections on Geertz, the Strong Program and Structuralism.” Cultural Sociology 2 (2): 169-186. doi:10.1177/1749975508091031.

Gallery
Best Captured Moments

Instagram

Adelia. Theme by STS.