![]() |
How to Do Nothing: Resisting the Attention Economy. Jenny Odell. Melville House Publishing. 2019.
Pada awalnya saya merasa diam (pasif) bisa saja terasa lebih melelahkan daripada melakukan suatu aktivitas. Sekiranya asumsi ini sejalan dengan apa yang dikatakan Jenny Odell: “Nothing is harder to do than nothing.” Suatu pendapat yang akurat dan realistis. Betapa banyak orang mengalami kejenuhan, berada di bawah tekanan, ataupun pikirannya dipenuhi oleh kekhawatiran seringkali mengatakan dirinya ingin berdiam diri dan tidak melakukan apapun. Aktivitas berdiam diri — tidak melakukan apapun, di lain sisi, seringkali dipertentangkan dengan sesuatu hal yang mengambil bagian dari mentalitas masyarakat ekonomi, yaitu produktivitas. Doing nothing diasosiasikan dengan kemalasan dan ketidakproduktifan.
Tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya bahwa buku ini akan lebih mengarah pada spiritual awakening. Namun ternyata
buku ini terasa sangat ilmiah, diteliti dengan sangat baik, memberikan
perspektif baru bagaimana seseorang dapat mengubah orientasinya tentang “doing
nothing” dalam rangka mencari kepuasan batin, menyadari dan menikmati
eksistensinya dengan segala yang ada di sekitarnya. Seseorang dapat “tidak
melakukan apapun” merupakan asumsi yang keliru, menurut Odell.
Doing nothing means disengaging from one framework (the attention economy) not only to give myself time to think, but to do something else in another framework. — Jenny Odell
Buku ini berusaha menyadarkan manusia untuk lebih membuka mata dan menyadari pentingnya kesadaran ekologis. Di dalamnya terdapat berbagai mekanisme sederhana yang berguna baginya untuk menciptakan kebahagiaan. Ketika seseorang ada dalam kesendirian, berdiam, dan melakukan pengamatan terhadap sesuatu, maka di sinilah ia dapat merefleksikan hak sederhana ini untuk lebih memahami segala yang dimilikinya dalam hidup. “Placefulness,” misalnya, mendorong timbulnya rasa syukur melalui refleksi secara mendalam untuk mengetahui jejak historis peristiwa yang terjadi di suatu tempat maupun tatanan ekologis yang telah mapan, seperti siapa dan apa saja yang tumbuh dan berkembang di sana. Odell menganjurkan untuk melihat hubungan manusia dengan alam sebagai suatu bentuk interaksi dalam konsep “I-thou” bukan “I-it,” guna memahami ruang relasi yang tercipta sesungguhnya, multispesies bukan monospesies.
Odell menyinggung aktivitas pasif yang sesungguhnya sangat bermanfaat bagi manusia, yakni mendengarkan. Ia mengutip Pauline Oliveros: “To listen is to give attention to what is perceived both accoustically and psycologically.” Sebuah renungan membutuhkan konsentrasi dan kemampuan untuk mendengarkan. Maka, deep listening (merujuk pada Oliveros) akan meningkatkan kestabilan emosional seseorang untuk menerima apa yang dihadapinya, apa yang terjadi — tidak serta merta cepat menghakimi. Sebagai contoh, mengamati burung “bird-noticing” sebagai salah satu aktivitas yang memanjakan diri.
Silence is not the absence of something but the presence of everything. — Gordon Hempton
Kutipan itu terdengar mengandung pesan yang sama dengan apa yang Rumi ungkapkan: “Listen to silence. It has so much to say.” Berefleksi dalam diam dapat menjadi sarana seseorang untuk menemukan kebahagiaannya. Seorang filsuf Yunani, Epicurus menganggap masyarakat modern seringkali tidak menyadari sumber ketidakbahagiaannya. Lebih lanjut yang dapat dikatakan adalah bahwa “bahagia itu sederhana, hidup itu pilihan” — diri menjadi pemegang kendali penuh untuk menentukan jalan kebahagiannya sendiri. Manusia membutuhkan sedikit sesuatu untuk dapat merasa bahagia, oleh karenanya mereka harus dapat mengendalikan dan membatasi keinginannya.
Less is more, less is better. Semakin sedikit terikatan seseorang pada sesuatu hal yang bersifat materialistik, maka akan semakin mudah baginya untuk mencapai kebahagiaan. Menyendiri di alam dapat menjadi alternatif untuk menarik diri dari segala bentuk ikatan emotional terhadap sesuatu yang bersifat materialistik. Adapun hal ini berkaitan dengan apa yang disampaikan oleh Odell tentang bioregionalisme — didasarkan pada pengamatan terhadap suatu tempat dan memahami tanggung jawab terhadap ekosistem. Berdiam diri menunjukkan eksistensinya pada suatu tempat dimana seseorang mengamati berbagai aktivitas alamiah, seperti suara burung dan migrasinya, aliran air sungai, dsb. Dari perhatian yang sepenuhnya diberikan terhadap apa yang dilakukannya, secara tidak langsung membentuk persepsi dan kesadaran diri untuk memperhitungkan keberadaan unsur di luar manusia sebagai suatu entitas yang memiliki kekuatan dan agensi.
Photo: Thieu Hoang Phuoc.

Social Media