Patah Hati

PC: Cottonbro.

The Sun and Her Flowers. Rupi Kaur. Andrews McMeel Publishing. 2017. 

Membaca sebuah karangan puitis seringkali menyentuh emosionalitas dan rasionalitas. Buku ini dengan indah mendeskripsikan keterpurukan, kebahagiaan, dan pendewasaan diri seorang perempuan yang berjuang melewati berbagai peristiwa yang tidak diinginkan dalam hidupnya, seperti pemerkosaan, penyerangan seksual, dan hubungan yang penuh kekerasan. Ia pun berusaha menghadirkan kenangan bersama orang-orang yang (pernah) dikasihinya. Patah hati merupakan bagian dari proses manusia bertumbuh. Ia mengibaratkan selayaknya bunga yang ditanam, mereka mengalami fase layu, gugur, berakar, dan tumbuh untuk mencapai fase mekar.

… think of these flowers you plant in the garden each year they will teach you that people too must wilt, fall, root, rise, in order to bloom. — Rupi Kaur

Perempuan tidak dapat terus menerus larut dalam keterpurukan akibat being romantically rejected atau terhadap segala hal buruk yang datang menimpanya. Kaur menulis pesan seorang ibu kepada anak perempuannya: mendengarkan dalam keheningan, berbicara dengan tanggung jawab, menyadari tantangan untuk menjadi manusia, memilih disertai rasa syukur, dan mencari sesuatu yang berharga untuk diri sendiri. Ia menyadari segala yang terjadi hanya sementara dan di sini ia belajar memahami perasaanya, berusaha mencari makna tentang cinta. Ketika seseorang merasa jatuh cinta, maka ia pun harus menyadari adanya kemungkinan lain perubahan perilaku dari penuh kasih menjadi apatis dan/atau antipati, falling out of love.

I learned love is about giving everything and letting it hurt. I learned all things come in twos. Life and death. Pain and joy. Salt and sugar. Me and you. It is the balance of the universe. — Rupi Kaur

Patah hati membuatnya mengingat kenangan, mendefinisikan kembali makna suatu hubungan dan mengatur ulang pola pikir and orientasinya, sebagaimana evaluasi itu menjadi nilai moral dan kehati-hatian. Mengendalikan orang lain adalah sesuatu di luar kemampuan diri sendiri, oleh karenanya proses penyembuhan itu mengarah pada refleksi diri dengan menggunakan dikotomi “I-me.” Mengendalikan diri sendiri lebih mudah dan memberikan kepastian. Kaur mengilustrasikan perempuan yang membangkitkan semangat dalam dirinya, menjunjung konsep mencintai diri sendiri (self love), menumbuhkan rasa syukur dimana “me” akan dan terus selalu bersama “I” dalam segala situasi. Mendewasakan diri dengan mengesampingkan konstruksi sosial mengenai kecantikan yang sempurnya, yang diyakini tidak pernah ada. Halima Aden mengatakan “I don’t think I have to show skin to be beautiful.” Bahkan, penampilan berpakaian seseorang sekalipun tidak serta merta menunjukkan kebebasannya. Pada akhirnya, kepergian seseorang suatu hari diharapkan menjadi momen paling mengharukan, merengkuh kebahagiaan dalam merayakan kenangan semasa ia hidup dan menjalani kehidupan. 

Photo: Cottonbro.

Gallery
Best Captured Moments

Instagram

Adelia. Theme by STS.